Kamis, 05 Februari 2015

Deleng Sibuatan, 9 Mei 2014


Aku hanya ingin mempublish kegemaran kami dengan alam dan hidup.
Jumat ini adalah jumat yang luar biasa bagi kehidupanku, karena setelah sekian lama akhirnya ada waktu untukku kembali menikmati hdiup sesungguhnya. Yaitu karena aku bakalan mendatangi gunung Sibuatan, atau dalam bahasa Karo gunung itu adalah deleng.

Bermulai pada janji awal kami kumpul di kosan teman jam 9 pagi, tapi saat aku dan windi datang yang kami temui adalah kesepian yang hampir membuat kami, “ah indonesia-nya”. Kami pun melengkapi kebutuhan kami seperti obat – obatan dan sebagainya ya termasuk sarapan karena jujur pagi itu saya belum sarapan. Dengan sambil kami sibuk menghubungi mereka.
Akhirnya satu sudah datang, dan bilang kalau ini berangkat jadinya setelah shalat jumat, oke baiklah tapi kami pun menerimanya. Dari pada dikos itu diam saja gak karuan lebih baik aku dan windi minjam motor sama bambang demi kembali ke kosan dulu untuk istirahat, pokoknya yang ada dipikiran saat itu udah mulai jengah dan malas pergi. Akhirnya jam setengah dua selesai shalat jumat bang Pesal mengirim kami pesan singkat untuk segera ke kosan Naldi, tempat dimana kami kumpul.
Setibanya disana, ya seperti perkiraan awal juga hanya ada kami berdua ditambah bang Pesal saja. Hampir sejam lebih kami menunggu Icip dan Imam datang dan cukup membuat kami geram. Setelah itu kami bergegas ke terminal bus yang bakalan ngebawa kami ke Sidikalang. Kami berempat, aku, Windi, Icip dan bang Pesal naik angkot sedangkan Imam dibonceng naldi sampai terminal y dengan membawa tas keril penuh bawaan pastinya.

Setiba dilokasi terminal, gak lama kemudian datang satu rombongan lagi anak TI yang memang udahjanjian dengan kami dan termasuk alumni kami, bang Andre. Saat itu kesan pertama melihat mereka adalah takud. Ya pastinya kembali nanya sama diri, “gila beneran nih? Kami cewek cuma dua dengan dikelilngi para pria-pria yang notabene nya kami juga gak terlalu kenal dan akrab terlebih anak TI. Kami pun berusaha mengakrabkan diri, ya nilai plusnya adalah mungkin hanya aku yang berpenampilan wajarnya seorang wanita, karena Windi temanku itu seperti apa adanya dirinya dengan tampilan selengeannya dan menambah aksen ketomboyannya lah ya. Aku sempat merasa sok kecakepan juga pada moment-moment itu.

Sampai pada akhirnya kami nemu bus dan kami pun berangkat dengan skema: Pak supir, bang Evan (alumni TI), Anto(TI), lanjut dibangku pertama setelah supir ada abang-abang yang kebetulan nyisip dengan kami*hehehe, Faris (anak TI),Ical(temennya Dolly), Rezky(TI), lanjut kebelakang ada aku, Windi, bang Andre, dan Dolly (TI), dan yang paling belakang ada Imam(temen Icip), bang Pesal, Mirzha dan Icip. Nah itulah tadi manusia-manusia yang ada didalam bus yang kami tumpangi menuju Sidikalang dengan segala luapan semangat. Xoxo!!!
Kira-kira saat itu adalah pukul 17.00 WIB kami berangkat dari Medan menuju Sibuatan. Dengan mengucapkan bismillah, iya didalam hati. Kami pun berangkat, ya walaupun aku begitu lumayan agak takud dan canggung ya. Diperjalanan pun aku ya seperti biasa agak tertidur tapi entah kenapa pada saat kami baru seperempat perjalanan tepatnya masih pun belum nyampek penatapan brastagi terjadi kemacetan yang luar biasa yang membuat begitu panjangnya antrian. Kalau tidak salah ingat saat itu terjadi longsor, karena jujur saja jalanan kesana adalah berbukit jadi tanahnya adalah tanah yang lumayan gampang buat longsor. Belum lagi ditambah dengan banyaknya orang kita yang uda jelas-jelas jalanan ini begitu sempit tapi tetap nekat buat nerobos antrian dari jalan yang harusnya bersebrngan itu yang mengakibatkan semakin macetnya jalan dong. Orang –orang pun semakin memanas palagi didalam bus yang sempit dan sesak. Ohya bus yang ke Sibuatan notabene adalah bus-bus yang kecil. Karena sesak dan panas, sebagian dari kamipun berinisiatif keluar untuk melihat apa yang sedang terjadi.
 Akupun dan windi juga mulai jengah dan kepanasan didalam, jadi kami putuskan untuk keluar mengikuti langkah mereka haha. Eh ya pas keluar si Faris uda sibuk aja dengan tongsisnya dan mulai mengeluarkan jurusnya untuk berpose. Ya karena kami juga adalah wanita yang ngeksis kami pun ikutan hahaha. 


Gak disangka ternyata macet luar biasa panjang dan cukup menyita waktu kami, padahal berharapnya kami uda nyampe di kaki gunung jam Sembilan malam tapi yang terjadi sudah jam setengah tujuh dan kami pun masih terjebak macet. Huhu. Setelah hampir dua jam kami menunggu lama akibat macet, akhirnya bus yang kami tumpangi pun akhirnya bias berjalan dengan lumayan lamban dikarenakan akibat macet yang panjang dan antri. Sampai akhirnya kemacetan sudah mulai membaik dan pak suir pun mulai menambah kecepatannya karena siapapun yang terjebak dalam kemacetan pasti sangatlah penat.
Kami semua hampir smuanya tertidur pulas didalam perjalanan, dan pas pukul 22.00 WIB bias dibayangkan apa yang terjadi dengan perut kan? Yup benar, kami kelaparan. Dan untunglah kami singgah sebntar dirumah makan yang dengan memberanikan diri bahwa mereka muslim. Karena sudah mulai larut dan juga aku belum shalat, akupun memberanikan diri untuk numpang shalat dan benar bahwa mereka adalah muslim.
Untungnya windi bawa bekal makanan yang memang sudah dibilangnya, bawaan umi kesayangan windi hehe. Sudah selesai dan juga mulai kembali cerah rasanya dunia ini kami dan pak supir pun mulai melanjutkan perjalanan. Dan sampailah kami tepat pukul sebelas lewat di Desa tersebut. Seturunnya kami dari bus, kami diterima oleh harumnya bau tanah basah yang siapapun bias tahu kalau disini habis hujan yang cukup lebat sepertinya.hmmm hawa dingin sudah mulai terhirup. Dan untuk mempercepat langkah jadi beberapa anak cowok mengambil bagian untuk menjumpai kades setempat untuk meminta ijin kalau kami ingin melakukan hiking di gunung sibuatan. Ya ini sangat diperlukan, kenapa? Jawabannya adalah karena yang kita datangi adalah hal yang baru jadi kita harus ijin dan itu adalah alam atau dimanapun kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi selalulah bawa pengenal kita dengan niat yang bagus. Bismillah lagi, iya didalem hati eh tapi sambil diomongin juga kok.
Sesaat di bus tadi sebenarnya ada yang paling menggangu yaitu saat kita kebelet pipis, dan setelah nyampek yang kami lakukan adalah menumpang. Hehehe. Tapi berhubung tempat tujuan kami mayoritas adalah Kristen jadi kami pu menupang disana, opung itu sangatlah baik dan ramah. Kalau dilihat dari kondisi rumahnya, ya kasihan sekali mereka yang sudah tua masih bias hidup mandiri. Setelah selesai kami pun berterima kasih, disini adalah sisi yang paling ku sukai bahwa perbedaan suku agama dan ras bias tertepiskan. Padahal jelas aku sedang memakai hijab yang sebenarnya adalah identitasku bahwa aku adalah seorang muslim.
Setelah segalanya beres kami pun memulai perjalanan dari desa menuju pintu rimba deleng sibuatan. Yang diperkirakan hampir sejam waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan tersebut. Bisa dibayangkan bahwa kami berjalan tepat tengah malam dengan penerangan yang seadanya dan kondisi jalan yang becek. Kami pun berjalan dengan semangat tapi juga hati-hati. Disepanjang perjalanan dengan bantuan senter juga cahaya dilangit yang juga turut membantu kami, bisa kami merasakan udara yang begitu segarnya. Dan bau sayur mayor dikanan kiri kami, namun karena hari sudah larut kami Cuma bisa menebak-nebak saja, apa yang sebenarnya ada dikanan dan kiri kami.
Ternyata malam itu bukan hanya kami yang ingin ke deleng sibuatan, karena saat menuju pintu rimba kami juga berjumpa dengan anak alam yang lain, namun bedanya mereka naik motor sedangkan kami mengandalkan kaki kami. Hahaa. Berhubung sibuatan merupakan gunung pertama kami jadi kami cukup kebingungan untuk menentukan jalan dan untungnya kami sempat bertemu....
to be continue... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar